Showing posts with label filantropi. Show all posts
Showing posts with label filantropi. Show all posts

Wednesday, January 22, 2014

Syarat dan Rukun Zakat

Unknown

LAYANAN DONASI LAZIS NUSANTARA
Bank BRI
No Rek: 0016-01-016807-
53-2
An. Badan Wakaf Nusantara


KONFIRMASI TRANSFER:
Ketik LAZIS Spasi NAMA LENGKAP Spasi JUMLAH DONASI
Kirim ke: 08222 67888 30


LAYANAN JEMPUT DONASI
Wilayah Kota Semarang
Telp/Sms: 08222 67888 30


LAYANAN ZAKAT, INFAQ, SHADAQAH DAN WAKAF
LAZIS NUSANTARA - Yayasan Badan Wakaf Nusantara
______________________________________________________

Syarat-syarat Zakat
Untuk membatasi pengertian syarat, penyusun berpegang pada makna syarat yang berarti: hal-hal atau sesuatu yang ada atau tidak adanya hukum tergantung ada dan tidak adanya sesuatu itu.[1]

Dari pengertian tersebut, syarat dalam zakat ada dua, yaitu:
a.       Syarat zakat yang berhubungan  dengan subyek atau pelaku (muzakkī : orang yang terkena wajib zakat) adalah Islam, merdeka, balig dan berakal.[2]
b.      Syarat-syarat yang berhubungan dengan jenis harta (sebagai obyek zakat)

Mengenai jenis harta (kekayaan) yang menjadi obyek zakat secara umum telah disebutkan dalam al-Qur’an, kemudian diperincikan dan diperjelas dalam hadis-hadis nabi, menyangkut pada lima kelompok harta, namun macam- macam jenis harta tersebut, tidak sebagai pembatasan yang mutlak dan bersifat mati, akan tetapi additional  yaitu sesuai dengan waktu itu.[3]

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa pada prinsipnya jenis (macam-macam) harta yang menjadi obyek zakat adalah harta yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:[4]
1)   Milik penuh
Artinya penuhnya pemilikan, maksudnya kekayaan itu harus berada dalam kontrol dan dalam kekuasaan yang punya, (tidak bersangkut di dalamnya hak orang lain), baik kekuasaan pendapatan maupun kekuasaan menikmati hasilnya.
2)  Berkembang
Artinya harta itu berkembang, baik secara alami berdasarkan sunatullāh maupun bertambah karena ikhtiar manusia. Makna berkembang di sini mengandung maksud bahwa sifat kekayaan itu dapat mendatangkan income, keuntungan atau pendapatan. Dengan begitu nampak jelas bahwa jenis atau macam-macam harta (kekayaan) tidak hanya yang dijelaskan dalam hadis nabi, melainkan pada harta yang mempunyai potensi dapat dikembangkan atau berkembang dengan sendirinya.
3)  Mencapai Nisab
Artinya mencapai jumlah minimal yang wajib dikeluarkan zakatnya. Contoh: nisab ternak unta adalah lima ekor dengan kadar zakat seekor kambing. Sehingga apabila jumlah unta kurang dari lima ekor maka belum wajib dikeluarkan zakatnya. Adapun ketentuan nisab zakat ini berdasarkan hadis Nabi SAW sebagai berikut:
ليس فيمادون خمسة أوسق صدقة ولافيمادون خمس ذودصدقة ولافيمادون خمس أواق صدقة[5]

4)   Lebih dari kebutuhan pokok
Artinya harta yang dipunyai oleh seseorang itu melebihi kebutuhan pokok yang diperlukan oleh diri dan keluarganya untuk hidup wajar sebagai manusia.
5)   Bebas dari hutang
Artinya harta yang dipunyai oleh seseorang itu bersih dari hutang, baik hutang kepada Allah (nażar atau wasiat) maupun hutang kepada sesama manusia.
6)   Berlaku setahun
Suatu milik dikatakan genap setahun menurut al-Jazaili< dalam kitabnya Tanyinda al-Haqā’iq syarh Kanzu Daqā’iq, yakni genap satu tahun dimiliki.[6] Hal ini sebagai mana dalam hadis Nabi SAW diriwayatkan oleh Ibnu Umar, sebagai berikut:
لاتجب فى مال زكاة حتى يحول عليه الحول[7]

Tahun yang dimaksud adalah hitungan tahun Qamariyyah. Syarat ini hanya terbatas pada jenis harta: ternak, emas perak dan harta dagangan, masuk dalam istilah zakat modal. Untuk hasil pertanian, buah-buahan, harta karun dan yang sejenis disebut zakat pendapatan, tidak disyaratkan satu tahun.[8]

Rukun Zakat
            Adapun yang termasuk rukum zakat adalah: 
a.       Pelepasan atau pengeluaran hak milik pada sebagaian harta yang dikenakan wajib zakat
b.      Penyerahan sebagian harta tersebut dari orang yang mempunyai harta kepada orang yang bertugas atau orang yang mengurusi zakat (amil zakat).
c.       Penyerahan amil kepada orang yang berhak menerima zakat sebagai milik.[9]



[1] Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Usul Fiqh, penerj. Iskandar al-Barsany, cet. Ke-3, (Jakarta: Rajawali Press, 1993), hlm. 185. 

[2] Wahbah az-Zuhailī<, Zakat Kajian…., hlm.98-100.
[3] Ali Yafie, Makalah Seminar Pengembangan Manajemen Zakat tgl. 31Januari-1 Februari 1990 di IAIN Raden Intan Lampung, terkumpul dalam buku Pengembangan Manajemen Zakat, (Lampung, Proyek Pengembangan IAIN Raden Intan Lampung: 1990), hlm. 18.

[4] Muhammad Daud Ali, Sistem Ekonomi…hlm. 41.
[5]Imām Muslim, Sahīh Muslim,Kitab az-Zakāh,(Beirut: Dār al-Fikr t.t) hlm. 390.
[6]Syauqi Isma’il Syahatin, Penerapan Zakat di Dunia Modern (Jakarta: Pustaka Dian Antar Kota, 1986), hlm. 128.

[7] Malik bin Anas, Al-Muwaţţa, Kitab az-Zakah bab az-Zakah fi al-‘ِِAini min az-zahab wa al-waraqi, (ttp: tnp, t.t.) Hadis no. 6  I:168.

[8] Yūsuf al-Qaradawī, Hukum…(terj.), hlm. 161.

[9] Wahbah az-Zuhailī, Zakat Kajian…, hlm. 89.

Pengertian dan Dasar Hukum Zakat

Unknown

DONASI LAZIS NUSANTARA
Bank BRI
No Rek: 0016-01-016807-
53-2
An. Badan Wakaf Nusantara

KONFIRMASI TRANSFER:
Ketik LAZIS Spasi NAMA LENGKAP Spasi JUMLAH DONASI
Kirim ke: 08222 67888 30

LAYANAN JEMPUT DONASI
Wilayah Kota Semarang
Telp/Sms: 08222 67888 30

LAYANAN ZAKAT, INFAQ, SHADAQAH DAN WAKAF
LAZIS NUSANTARA - Yayasan Badan Wakaf Nusantara
______________________________________________________

 

Pengertian Zakat

Zakat secara etimologi merupakan bentuk isim masdar dari akar kata  yang bermakna an-namā’(tumbuh), al-barakāh (barakah), at-tahārah (bersih), as-salāh (kebaikan), safwatu asy-Syā’i (jernihnya sesuatu)[1], dan al-madu (pujian)[2].

Pengertian zakat secara etimilogi ini terangkum dalam ayat:

 خذمن أموالهم صدقة تطهّرهم وتزكّيهم بهاوصلّ عليهم[3]


Ayat tersebut bermaksud bahwa zakat itu akan membersihkan, mensucikan dan menumbuhkan pahala orang yang melaksanakannya.[4]
Adapun pengertian zakat secara terminologis, para ulama memberikan rumusan yang berbeda-beda, diantaranya adalah:


a.       As-Sayyid Sabiq

اسم لما يخرجه الانسان من حقّ الله تعالى الى الفقراء وسميت زكاة لما يكون فيما من رجاء البركة وتزكية النّفس[5]


b.      Abdurrahman Al –Jazāirī

الزكاة هو تمليك مال مخصوص لمستحقه بشرائط مخصوصة[6]

c.       Muhammad Asy - Syaukani

الزكاة هو اعطاءجزء من النصاب الىفقير والىنحوه غير متصف بمانع شرعى يمنع من التصرف اليه[7]   
d.      Hasbi Ash Shiddieqy
Sebagian dari harta orang kaya yang telah ditentukan kadarnya oleh agama pada sebagian jenis harta dan telah ditentukan nisabnya pada sebagian jenis harta yang lain.[8]
Dari beberapa definisi ulama di atas dapat disimpulkan bahwa zakat adalah bagian dari harta yang wajib diberikan oleh setiap muslim yang memenuhi syarat kepada orang tertentu, dengan syarat-syarat tertentu pula.[9]

Kata zakat dalam arti terminologi oleh al-Qur’an disebut 30 kali, yaitu 27 kali disebut dalam satu konteks dengan shalat, dan dari 30 kali sebutan tersebut, terdapat 8 sebutan yang berada pada surat-surat yang turun di Makkah dan sisanya berada pada surat-surat yang turun di Madinah.[10]

Dari beberapa ayat al-Qur’an, kata zakat banyak sekali yang dihubungkan dengan kata salat dan kita diperintahkan untuk melaksanakannya seperti yang terdapat dalam surat al-Muzzammil ayat 20, sebagai berikut:
واقيمواالصّلوة واتوزاالزّكوة وافرضواالله قرضاحسنا[11]
Di samping itu, al-Qur’an juga mengecam keras bagi orang yang tidak mau menunaikan perintah zakat tersebut, sebagaimana yang disinyalir dalam surat At- Taubah ayat 34, sebagai berikut:

والذّين يكنزون الذّهب والفضّة ولاينفقونهافىسبيل الله فبشّرهم بعذاب اليم[12]



Dengan demikian jelaslah bahwa zakat merupakan salah satu kewajiban atas semua  umat Islam yang telah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan oleh nas-nas al-Qur’an, al-Hadis dan Ijma ulama.

Dasar Hukum Zakat
Zakat dalam hirarkis hukum Islam merupakan rukun Islam ketiga, yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim, yang disyari’atkan pertama kali pada bulan Syawal tahun II Hijriyah di Madinah. Kewajiban zakat itu bila ditinjau dari kekuatan hukumnya sangat kuat karena mempunyai dasar hukum nas yang sudah pasti, seperti tersebut dibawah ini:
a.       Al-Qur’an                  
وأقيمواالصّلوة واتواالزّكوة واركعوا مع الرّكعين  [13]
وهوالذّي انشأجنّات معروشات وغيرمعروشات والنّخل والزرع مختلفاأكله والزيتون والرّمان متشابها وغيرمتشابه كلوا من ثمره
اذاأثمرواتواحقه يوم حصاده ولآتسرفوا إنه لايحب المسرفين[14]

إنّ الذّين امنواوعملواالصّالحات واقامواالصّلوة وأتواالزّكوة لهم

اجرهم عند ربهم ولاخوف عليهم ولاهم يحزنون[15]


b.Al-Hadis

بنىالاسلام علىخمس شهادت ان لآاله الاّالله وانّ محمّدارسول الله واقام الصلاة وايتاءالزكاة والحجّ البيت وصوم رمضان[16]


يأمرنابالصّلاة والزكاة والصلة والعفا ف[17]

a.       Ijma’
Yaitu adanya kesepakatan semua umat Islam di semua negara bahwa  zakat adalah wajib. Bahkan, para sahabat Nabi SAW sepakat untuk membunuh orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat dan mereka tergolong orang kafir dalam pandangan ulama.[18]



[1]Ibrahim, Anīs dkk, Al-Mu’jām al-Wasīt, (Beirut: al-Maktabah al-Ilmiyah, t.t.), I: 498.

[2]Al-Alamah Ibnu Manzūr, Lisān al-‘Arab,(Beirut: Dār Lisan al-‘Arab, t.t.), II: 36.
[3]At-Taubah (9): 103.
[4]Wahbah az-Zuhailī, Zakat Kajian Berbagai Mazhab,alih bahasa Agus Effendi dan Burhanuddin Fanany, kata pengantar Jalaluddin Rahmat, (Bandung: PT.Remaja Rosda karya,1995), hlm. 83.

[5] As-Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah, (Beirut: Dār al-kutub al-Araby, 1973), I: 276.
[6]Lebih lanjut al-Jazāirī memberikan keterangan pengertian tersebut di atas bahwa seseorang yang telah memiliki harta yang mencapai nisab zakat. Maka ia wajib memberikan harta zakatnya kepada yang berhak dengan cara menjadikan milik. Abdurrahman al-Jazāirī, Al-Fiqh ‘alā al-Mazāhib al-‘Arba’ah, (Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyyah, 1990), I:536.

[7]Muhammad asy-Syaukani, Nail al-Autār,(Libanon: Dār al-Jail, t.t.), IV:169.
[8]Hasbi ash Shiddieqy, Zakat Sebagai Salah Satu Unsur Pembinaan Masyarakat Sejahtera, (Purwokerto: Matahari masa, 1969), hlm.11.  

[9]Muhammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam, zakat Dan Wakaf, cet. ke-1 (Jakarta: UI Press, 1988), hlm. 39.

[10]Yu>suf al-Qaradawi>, Fiqh az-Zakāh, (Beirut: Muasassah al-Risalah, 1980), I: 39.
[11] Al-Muzzammil (73): 20.
[12] At-Taubah  (9): 34 .
[13] Al-Baqarah (2): 43.
[14] Al-An’am (6): 141.
[15] Al-Baqarah (2): 277.
[16] Imām al- Bukhārī, Sahīh al-Bukhārī, Kitab al-Imān, (Beirut: Dār al-Fikr,1991), I:10. Hadis riwayat Bukhari dari Ibnu Umar.

[17] Idem, bab wujub az-Zakāh, II: 124. Hadis sahih dari Abu Sufyan dari Ibnu Abbas.
[18] Wahbah al-Zuhailī, Zakat Kajian….., hlm. 90.