Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Saturday, February 19, 2011

Redivinisi Emansipasi Wanita

Unknown
Oleh: Musthofa El-Dhakil
(Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang
Wanita dalam cengkraman dirinya dan kapitalisme, mungkin postulat ini tepat sekali dalam mengungkapkan keadaan wanita di era postmodern. Padahal zaman ini adalah zaman pemebebasan kaum wanita, sperti yang diungkapkan oleh tokoh-tokoh feminisme. Timbulnya gerakan feminisme di dunia barat dan timur, tak lain disebabkan adanya revolusi besar di dunia barat yang terkenal dengan aufklarung ataupun renaisance. Padahal visi utama dari gerakan pencerahan ini adalah sebagai abad pembebasan dari dogma dan budaya. Sekarang wanita terpenjara oleh hasrat mereka sendiri agar terlihat lebih ngeh. Secara tidak sadar sebenarnya mereka dalam cengkraman globalisasi-kapitalistik.
Sudah tidak barang baru, setiap wanita ingin tampil sempurna (perfeksionis) demi sebuah gengsi. Kosmetik mahal, tas indah, dan baju seksi adalah visi utama tiap perempuan di era postmodern, agar bisa terlihat anggun. Irasionalitas begitu nampak di era ini, khususnya terjadi pada diri perempuan. Disadari atau tidak visi globalisasi-kapitalistik bagi wanita adalah mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dengan cara menjual produk-produk bergengsi dan mahal. Semua itu karena wanita adalah ladang yang tepat bagi produk-produk kapital. Ini menegaskan bahwa ternyata di era posmodern hanyalah kepura-puraan.    
Lemah mental
Bila dikatakan wanita cenderung dilecehkan, kelihatannya perlu dibaca ulang postulat tersebut. Postulat tersebut bisa saja benar namun tidak selamanya benar. Ketika memandang wanita cenderung dilecehkan, berarti ada faktor luar yang membuat wanita seperti itu. Namun kita jarang sekali memandang dalam diri wanita itu sendiri. Realitas sosial memberikan gambaran bahwa, wanita cenderung mengalami lemah mental yang timbul dari dalam dirinya. Maka, kalau berfikir tentang hak-hak perempuan, semestinya kembali dulu pada konotasi kultural wanita. Wanita tidak bisa melepaskan dirinya dalam mencari hakekat keberadaan dirinya. Mungkin terlalu berlebihan ketika dikatakan bahwa jangan terlalu menyalahkan laki-laki, tetapi wanita itu sendiri yang merendahkan derajatnya, apabila kita kembali pada masa wanita sebagai komoditas perdagangan.
Dalam memikirkan jati diri atau harkat, pertama-tama wanita harus mengerti dirinya. Katakanlah, bagaimana saya, keadaan saya, dimana hak-hak yang perlu saya lihat (Prof. DR. Darmawan Mas’ud). Wanita harus pandai-pandai dalam menempatkan diri dalam keluarga maupun masyarakat. Misalnya, apakah wajar saya sebagai wanita berjalan di tengah malam sendirian? Terkecuali hal-hal yang mendesak.
Media masa pun menjadi alat refrensi dalam memperoleh informasi demi kepentingan gengsi. Begitu lemahnya mental wanita ketika dihadapkan dengan produk-produk yang semakin membuat dirinya anggun dan molek dilihat. Perasaan bangga pun terasa ketika berbelanja ke super market maupun mini market. Predikat shopaholic (suka berbelanja) pun tersemat dalam diri wanita masa kini. Ini mengindikasikan bahwa ternyata era postmodern memanfaatkan kelemahan mental wanita sebagai jalan mengeruk keuntungan.


Makna emansipasi
Lalu, dimana makna hakiki emansipasi yang di dengung-dengungkan oleh para pelopor modernisme? Kelihatannya postmodernisme semakin menempatkan wanita ke dalam kubangan yang lain. Pencerahan bagi wanita adalah hal yang mutlak dilakukan. Melalui pencerahan inilah wanita akan menemukan hakekat emansipasi (pembebasan). 

Pencerahan, seperti apa yang diutarakan oleh Immanuel Kant (1724-1804 M), menegaskan bahwa pencerahan adalah “jalan keluar” yang membebaskan manusia yang masih menggantungkan dirinya pada otoritas di luar dirinya, yang dengannya ia merasa bersalah, entah otoritas itu atas nama tradisi, dogma agama, ataupun ideologi tertentu. Pencerahan yang demikian harus dipahami sebagai proses sekaligus tugas untuk mencapai kedewasaan dengan berani menggunakan rasio sendiri. Sehingga wanita mampu melakukan kritik terhadap apa yang ada, bukannya menerima secara berlebihan dan konsumtif.
Karl Marx pun memberikan ulasan tentang kritisisme. Menurutnya, kritisisme tidak hanya gerak dialektika yang mengawang-awang dalam ide sebagaimana yang diungkapkan oleh Hegel, tetapi melainkan juga terutama suatu praksis emansipatoris, yakni usaha-usaha mengemansipasi diri dari penindasan dan alienasi yang dihasilkan oleh kekuasaan dalam masyarakat. Oleh karena itu, hakekat emansipasi atau pencerahan wanita haruslah merubah mainset dalam dirinya. Dia bukanlah makhluk yang lemah, mudah dilecehkan dan subordinat. 

Paradigma yang demikian mutlak diperlukan demi kuatnya peran wanita dalam masyarakat. Perlu diketahui bahwa zaman Muhammad, wanita tidak hanya penghuni dapur, kamar tidur dan kamar hias akan tetapi juga sebagai panglima perang. Meskipun produk budaya timur mendalilkan bahwa wanita cukup di tiga tempat (dapur, kamar tidur dan kamar hias), namun, ketika mainset yang dibangun adalah sebenarnya mental wanita kuat, semua hanyalah kabar burung belaka.

Sunday, November 21, 2010

KONSEP PENDIDIKAN AGAMA DALAM UU SISDIKNAS TAHUN 2003

Unknown



Apakah agama mendorong ataukah menghambat perkembangan dan integrasi personalitas atau kepribadian seseorang? Ini merupakan pertanyaan klasik yang berjalan berabad-abad dan yang telah mendapatkan berbagai jawaban dari paling negatif sampai yang paling positif. Dari segi negatif agama dituduh sebagai penghambat pertumbuhan kepribadian bahkan sampai ke taraf psikologis.   
Sedangkan dari segi positifnya menyatakan bahwa agama merupakan faktor utama dari proses integrasi personalitas. Dengan tegas dikatakan, bahwa manusia belum menjadi manusia sepenuhnya bila tidak beragama. Selanjutnya jawaban pertanyaan diatas tidak cukup dengan “ya” dan “tidak”, karena agama tidak bersifat homogen, tetapi berujud dalam berbagai bentuk, baik bentuk yang sehat maupun tidak, sehingga masing-masing punya pengaruh yang berbeda dalam perkembangan pribadi pemeluknya.

Thursday, November 18, 2010

QURBAN VS KORBAN

Unknown
Idul adha merupakan sebuah kemenangan besar bagi umat Islam karena didalamnya mengisyaratkan konsepsi keimanan atau spiritualitas transendental yang kiranya sulit diterima oleh akal pikiran semata. Kegelisahan Ibrahim mencari Tuhan dari melihat matahari, bulan, padang pasir, sungai hingga menghancurkan berhala dan ditinggalkannya berhala yang paling besar dan perkasa. Itupun berhala yang dibuat oleh orang tuanya sendiri.

Hingga ia menemukan puncak pencarian tuhan dengan menemukan tuhan yang esa yakni Allah dan agama tauhid yang rahmatal lil alamin. Setelah menemukan Tuhannya ia juga ingin menemukan belahan jiwa, pada akhirnya ia menemukan pasangan hidupnya. Lama tidak dikarunia keturunan, pada waktu yang ditunggu datanglah moment kelahiran.
Ismail itulah nama anak yang kemudian memiliki garis keturunan nabi Ibrahim yang menginginkan doanya dalam keturunanya dijadikan pewaris para nabi.

Friday, November 12, 2010

IBU YANG TERPERDAYA

Unknown

Bagaimana pengaruh globalisasi khususnya konstruksi media terhadap kedudukan ibu rumah tangga, apakah mereka terpengaruh dan pada akhirnya cenderung hedonis?. Ini adalah pertanyaan yang amat sederhana, seiring perkembangan zaman yang jauh mengkaji koridor agama sebagai pegangan hidup.
Menurut hasil penelitian dari Sciena Madani, penelitian tersebut menunjukan ibu rumah tangga memang cenderung konsumtif. Hal ini disebabkan karena; pertama, kebosanan didalam rumah dan pola pengasuhan anak yang memberikan segala keinginan anak bukan pada sektor kebutuhan anak. Peran media sangat gencar dalam menyerang cara pandang atau mainstrem berfikir, sehingga ibu dan anak lebih asyik pergi keluar menikmati arus globalisasi. Kedua, ketidakmampuan menghadapi perkembangan zaman yang disibukan dengan urusan rumah tangga saja

Monday, September 6, 2010

Relasi Agama dan Negara

Unknown
Oleh : Agus Thohir, S.Pd.I
(Direktur Lingkar Studi Alternatif)

Membincang Negara dan agama adalah sebuah pembicaraan yang cenderung mengarah pada ruang lingkup membangun persepsi. Ini bisa kita lihat bagaimana penafsiran agama dan negara cenderung pada porsi bagaimana negara dan bagaimana agama menjadi menarik untuk diketengahkan sebagai dua perbedaan.
Saya melihat selama ini orang mendefinisikannya baik peran dan fungsi hubungan antara agama dan negara cenderung melihat pada sisi politis. Karena itu berbagai kepentingan sosial-politik sangat mewarnai penggambaran konflik kepentingan antara yang menghendaki agama sebagai dasar negara dengan kalangan politik modern yang menolaknya.

Masyarakat tidak bermental miskin

Unknown
Oleh : Lukman Wibowo*

SEHARI setelah insiden "zakat maut" di Pasuruan, SBY selaku kepala pemerintahan, turut menghaturkan belasungkawa. Presiden meminta agar pelakunya diproses secara hukum, dan berharap kejadian itu tidak terulang lagi di waktu mendatang.

Aparat hukum tentu saja dengan sigap dapat menindak pelakunya, dan menjaga agar kejadian itu tak terulang kembali di Pasuruan. Namun masalahnya, insiden yang menewaskan 21 orang tersebut, adalah sekadar efek kecil dari dahsyatnya kemiskinan struktural yang terjadi di negeri ini.

Jadi, jika masalah pokoknya adalah kemiskinan secara luas (sementara tragedi Pasuruan hanya suatu letupan), maka apakah pemerintah dapat segera menangkap sang "pelaku" yang menyebabkan pemiskinan, serta menjamin agar "kejadian" kemiskinan tak terjadi lagi?